Tim 7 dan 11 TEP UI Perkuat Fondasi Kemandirian Ekonomi Masyarakat Werianggi–Werabur

  • Whatsapp
Tim 7 dan Tim 11 Ekspedisi Patriot UI bersama 3 kelompok usaha peserta pelatihan. (ist)

TELUK WONDAMA — Tim 7 dan Tim 11 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) 2026 berkolaborasi menyelenggarakan pelatihan penguatan kapasitas kewirausahaan bagi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Werianggi–Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, pada 2, 3, 5, dan 6 Oktober 2026 bertempat di SD YPK Werianggi yang melibatkan tiga kelompok usaha masyarakat setempat.

Pelatihan tersebut dirancang untuk memperkuat fondasi pengelolaan usaha masyarakat, tidak hanya dari sisi produksi dan pemasaran, tetapi juga melalui pengembangan pola pikir kewirausahaan, pengelolaan kelompok, pencatatan keuangan, dan branding produk.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Tim 7 dan Tim 11 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) 2026, di bawah koordinasi Dr. Hendra Kaprisma, S.Hum., selaku Ketua Tim 7, dan Mgr. Erita Narhelati, S.Psi., selaku Ketua Tim 11. Kolaborasi ini menjadi bentuk sinergi dalam memperkuat kapasitas masyarakat di Kawasan Transmigrasi Werianggi–Werabur, khususnya dalam membangun fondasi kewirausahaan, meningkatkan tata kelola kelompok usaha, serta mendorong pengembangan identitas produk lokal.

Pelatihan ini menghadirkan Elisabeth Karma dari Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) sebagai fasilitator. Materi yang diberikan meliputi Growth Mindset Kewirausahaan, Perilaku Wirausaha, Manajemen Kelompok Usaha Bersama, Pencatatan Keuangan, dan Branding Produk.

Mengubah Pola Pikir, Membangun Kemandirian

Penguatan pola pikir menjadi salah satu bagian penting dalam pelatihan ini. Melalui materi Growth Mindset Kewirausahaan dan Perilaku Wirausaha, peserta diajak memahami potensi diri, mengenali peluang, serta membangun keberanian untuk terus belajar dan mengembangkan usaha.

Pelatihan dilakukan dengan menghubungkan proses pembelajaran, pengalaman, dan realitas kehidupan masyarakat. Pengetahuan tidak hanya disampaikan sebagai materi pelatihan, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta untuk merefleksikan pengalaman, mengenali potensi, dan menemukan peluang pengembangan usaha sesuai dengan kondisi mereka.

Perubahan cara pandang ini menjadi langkah awal untuk membangun kemandirian ekonomi. Sebab, pengembangan usaha tidak hanya bergantung pada sumber daya yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha dalam mengenali potensi, mengambil keputusan, dan menghadapi tantangan.

Dari Pengelolaan Kelompok hingga Identitas Produk

Selain kapasitas individu, keberlanjutan usaha juga membutuhkan pengelolaan kelompok yang baik. Materi Manajemen Kelompok Usaha Bersama memberikan pemahaman mengenai pentingnya pembagian peran, komunikasi, koordinasi, dan tanggung jawab dalam menjalankan usaha secara kolektif.

Aspek tersebut dilengkapi dengan materi Pencatatan Keuangan yang menekankan pentingnya pencatatan pemasukan dan pengeluaran sebagai dasar untuk memahami kondisi usaha. Dengan pencatatan yang tertib, kelompok usaha diharapkan dapat mengenali biaya produksi, memperkirakan keuntungan, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi keuangan yang lebih jelas.

Sementara itu, materi Branding Produk memperkenalkan pentingnya identitas produk melalui nama, logo, dan elemen visual yang membantu produk dikenali konsumen. Dengan demikian, branding bukan hanya soal tampilan, melainkan juga cara pelaku usaha membangun karakter produk dan menyampaikan nilai yang ingin diperkenalkan kepada pasar.

Bagi kelompok usaha yang mengembangkan potensi lokal, penguatan aspek tersebut menjadi bagian penting dalam proses membangun usaha yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki identitas dan peluang untuk berkembang.

Pengetahuan Baru, Harapan bagi Usaha Lokal

Antusiasme peserta menjadi salah satu bagian dari pelaksanaan pelatihan. Bagi pelaku usaha, pembelajaran mengenai potensi diri, pencatatan keuangan, hingga pengembangan identitas produk memberikan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan usaha.

Mama Dorsila, salah satu pelaku usaha dari Kelompok Ayawata, mengaku senang dapat mengikuti pelatihan tersebut. Ia menilai materi yang diberikan membantu peserta memahami hal-hal penting dalam menjalankan usaha. “Bahagia sekali dengan adanya pelatihan ini. Kami jadi lebih tahu potensi diri, cara mencatat keuangan usaha dengan baik, serta membuat logo dan identitas produk supaya lebih dikenal,” ujar Mama Dorsila.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas usaha dapat dimulai dari pengetahuan praktis yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta dalam mengelola dan mengembangkan usaha secara bertahap.

Sinergi Tim untuk Kemandirian Ekonomi Masyarakat

Kolaborasi Tim 7 dan Tim 11 TEP UI 2026 menjadi upaya membangun sinergi dalam pemberdayaan masyarakat di Kawasan Transmigrasi Werianggi–Werabur. Melalui pelatihan ini, kedua tim menghubungkan penguatan kapasitas individu dengan tata kelola kelompok dan pengembangan identitas produk lokal.

Harapannya dari kegiatan ini berupa penguatan pemahaman peserta dalam mengenali potensi diri dan peluang usaha, mengelola kelompok secara kolektif, melakukan pencatatan keuangan, serta membangun identitas produk. Penguatan kapasitas tersebut menjadi fondasi awal bagi kelompok usaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi secara lebih terarah.

Lebih dari sekadar penyampaian materi, kolaborasi ini diharapkan menjadi bagian dari proses pendampingan masyarakat yang berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan melalui kebiasaan mencatat transaksi, memperjelas pembagian tugas, memperbaiki identitas produk, dan mengevaluasi perkembangan usaha secara berkala.

Pada akhirnya, penguatan ekonomi masyarakat membutuhkan sinergi berbagai pihak sekaligus keterlibatan aktif pelaku usaha itu sendiri. Melalui kolaborasi Tim 7 dan Tim 11 TEP UI 2026, potensi lokal Werianggi–Werabur diharapkan dapat dikelola secara lebih terarah untuk membuka peluang tumbuhnya usaha masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.(scw)

Pos terkait