Dosen Sastra Unisa Teliti Bahasa Daerah Terancam Punah di Parigi Moutong

  • Whatsapp
tim peneliti Fakultas Sastra Unisa Palu melakukan foto bersama usai kegiatan Fokus Grup Diskusi yang dilaksanakan di Balai Desa Tanampedagi, Jumat (28/8/2026) pagi.(danafarayanti/mediasulawesi.id)

PARIGI-Sejumlah dosen Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu meneliti bahasa daerah yang terancam punah di Sulawesi Tengah. Bahasa daerah tersebut adalah Kaili Taje yang penuturnya kini tersisa di Desa Tanampedagi dan Petapa, Kabupaten Parigi Moutong.

Penelitian hibah internal yang dilakukan dosen bersama mahasiswa Fakultas Sastra tersebut dilakukan di Desa Tanampedagi, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong. Di desa tersebut, jumlah penutur Kaili Taje kini hanya tersisa ratusan orang.

Untuk menghidupkan kembali bahasa daerah yang kini terancam punah tersebut, tim peneliti melakukan Fokus Grup Diskusi yang dilaksanakan di Balai Desa Tanampedagi, Jumat (28/8/2026) pagi. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua Tim Peneliti, Mochammad Muchlis Ramadon, M.Pd dan dua anggotanya, Syamsuddin, S.S, M.Si dan Resky Anugrah Putra, M.Pd. Kepala Desa Tanampedagi, Ishak Alisincau beserta dewan adat dan tokoh masyarakat Desa Tanampedagi.

Pilihan Redaksi :  JBA Manado Hadirkan Lelang Kendaraan untuk Masyarakat Sulawesi Utara

Ketua Tim Peneliti, Mochammad Muchlis Romadon dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesepahaman dan kesepakatan dalam upaya penyelamatan bahasa Kaili Taje yang kini terancam punah. Kondisi tersebut, kata Romadon, tentunya mengundang keprihatinan mengingat bahasa daerah tidak hanya menjadi identitas tapi juga warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak terutama kepala desa, tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan kembali bahasa Kaili Taje mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat dan di sekolah. ‘’Kita harus mulai dulu dari lingkungan keluarga. Orang tua harus mengajarkan anak-anaknya berbahasa Kaili Taje. Begitupula di lingkungan masyarakat, harus membiasakan berbahasa Kaili Taje dalam berinteraksi,’’tekannya.

Pilihan Redaksi :  JBA Manado Hadirkan Lelang Kendaraan untuk Masyarakat Sulawesi Utara

Selain melakukan penelitian, tim peneliti juga nantinya akan menyusun kamus berbahasa Kaili Taje yang menjadi wujud kontribusi dalam upaya konservasi bahasa Kaili Taje, khususnya di Desa Tanampedagi.  

Kepala Desa Tanampedagi, Ishak Alisincau dalam sambutannya menyambut baik dan berterima kasih atas langkah yang dilakukan tim peneliti dari Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu dalam membantu menyelamatkan bahasa Kaili Taje. Ishak mengakui kondisi bahasa daerah tersebut sangat memprihatinkan dengan jumlah penutur yang terus berkurang.

Padahal, saat mekar tahun 90-an silam, desa tersebut menjadi salah satu basis penutur Bahasa Kaili Taje di Parigi Moutong. ‘’Dulu desa ini sangat kental dengan bahasa Kaili Taje. Namun sekarang kondisinya sangat jauh berbeda,’’tandasnya.

Pilihan Redaksi :  JBA Manado Hadirkan Lelang Kendaraan untuk Masyarakat Sulawesi Utara

Menurun drastisnya jumlah penutur bahasa Kaili Taje selain disebabkan urbanisasi, dominasi bahasa Indonesia dan juga karena faktor lingkungan. Masyarakat Desa Tanampedagi tidak lagi mengajarkan anak-anaknya sejak kecil berbahasa Kaili Taje. Demikian pula di lingkungan masyarakat, mereka umumnya menggunakan bahasa Indonesia. Adapula karena faktor gengsi di kalangan anak muda dalam menggunakan bahasa daerah tersebut.

Sebagai wujud kepedulian terhadap bahasa Kaili Taje, Ishak siap membantu tim peneliti dari Unisa tersebut. Selain itu, ia akan perlahan menghidupkan kembali bahasa daerah tersebut melalui penerapan saat pertemuan di kantor desa maupun di masyarakat. ‘Yah, kita coba mulai dengan membiasakan berbahasa Kaili Taje pada saat pertemuan di kantor desa atau di masyarakat,’’ujarnya disambut tepuk tangan peserta yang hadir.(dana)

Pos terkait