TASIKMALAYA— Semangat menjelajah Nusantara menjadi momentum Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) untuk memperkenalkan potensi Werianggi–Werabur, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, kepada komunitas penjelajah dari berbagai daerah.
Ketua TEP UI untuk bidang ekowisata, Dwi Kristianto, S.Hut., M.Kesos., menghadiri Jambore Nasional Overlanding Indonesia pada 22–23 Agustus 2026 di kawasan Bendungan Leuwikeris, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, TEP UI mengajak komunitas overlander untuk menjelajahi Wondama melalui rencana Rally Wisata Tour de Wondama dan Festival Budaya Kuweta.
Ajakan tersebut mendapat dukungan dari Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang hadir dalam jambore sebagai Dewan Penasihat Overlanding Indonesia. Menteri Transmigrasi mendorong komunitas overlander untuk turut mengenal dan mengembangkan potensi kawasan transmigrasi melalui perjalanan, wisata, budaya, dan kolaborasi ekonomi.“Wondama memiliki alam, budaya, masyarakat, dan jalur petualangan yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pengalaman wisata. Kami ingin mengajak teman-teman Overlanding Indonesia datang dan melihat langsung potensi Werianggi–Werabur,” ujar Dwi Kristianto.
Wisata sebagai Pintu Hilirisasi
Bagi UI, pengembangan pariwisata di Werianggi–Werabur tidak berdiri sendiri. Wisata dipandang sebagai pintu masuk untuk menggerakkan UMKM, produk lokal, ekonomi kreatif, budaya, jasa, dan investasi.
Direktur Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) Universitas Indonesia, Dr. L.G. Saraswati Putri, S.S., M.Hum., menilai kolaborasi lintas pihak menjadi kunci agar potensi kawasan dapat berkembang secara berkelanjutan.“Kami ingin pengabdian masyarakat hadir bukan hanya untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka konektivitas dan peluang. Ketika pariwisata, budaya, UMKM, dan potensi lokal bertemu dalam satu ekosistem, masyarakat dapat menjadi pelaku utama sekaligus penerima manfaat pembangunan,” ujar Saraswati.
Sejalan dengan itu, Assoc. Prof. Dr. Hendra Kaprisma, Ketua TEP UI untuk program hilirisasi produk, menegaskan bahwa wisata harus terhubung dengan penguatan nilai tambah produk masyarakat.“Tour de Wondama dapat menjadi etalase berjalan bagi produk lokal. Wisatawan datang bukan hanya menikmati alam dan budaya, tetapi juga mengenal, membeli, dan membawa pulang produk masyarakat. Di situlah pariwisata dapat menjadi pintu masuk hilirisasi dan pertumbuhan ekonomi lokal,” kata Hendra.
Konsep tersebut sejalan dengan program TEP UI di Werianggi–Werabur yang mendorong hilirisasi komoditas lokal, digitalisasi UMKM, penguatan branding, dan pemberdayaan masyarakat.
Dari Leuwikeris ke Wondama
Jambore Nasional Overlanding Indonesia dinilai menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan Werianggi–Werabur kepada komunitas yang memiliki tradisi menjelajah berbagai pelosok Indonesia.
Tour de Wondama diharapkan tidak sekadar menjadi perjalanan wisata, tetapi pengalaman yang mempertemukan wisatawan dengan alam, budaya, masyarakat, dan potensi ekonomi lokal.“Dari Leuwikeris kita mengajak para penjelajah Indonesia melihat sisi lain Nusantara. Mari datang ke Wondama, melintasi Trans-Papua, bertemu masyarakat, menikmati alam, dan merasakan langsung kekayaan budaya Kuweta,” ujar Tim Ekspedisi Patriot UI.
Bagi TEP UI, perjalanan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun koridor wisata Werianggi–Werabur yang menghubungkan pariwisata, budaya, konektivitas, UMKM, dan investasi. Dari Leuwikeris menuju Wondama, perjalanan bukan sekadar menjelajah Indonesia—tetapi membuka jalan bagi masyarakat untuk tumbuh bersama.(SCW)






