PALU – Penelitian kolaboratif mengungkap keberadaan tiga mikroba dominan yang masih ditemukan pada agroekosistem bawang merah Lokal Palu meskipun lahan mengalami tekanan penggunaan insektisida.
Ketiga mikroba tersebut adalah Aspergillus niger, Trichoderma asperellum, dan Bacillus cereus. Temuan ini menjadi bagian dari penelitian berjudul Soil-Plant-Microbe Interactions under Insecticide Pressure yang telah dipublikasikan dalam International Journal of Agriculture and Biosciences (IJAB), jurnal internasional bereputasi kuartil dua (Q2).
Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr. Ir. Hasmari Noer, M.Si., Dr. Sri Sudewi, S.P., M.Sc., Dr. Ir. If’all, S.TP., M.Si., dan Dr. Abdul Rahim Saleh, S.P., M.Sc. Tim peneliti berasal dari Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Pertanian Universitas Alkhairaat, Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat, Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Program Pascasarjana Universitas Sintuwu Maroso.
Insektisida dan perubahan kondisi tanah
Dr. Sri Sudewi, pakar mikroba dalam penelitian tersebut, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tekanan insektisida, kondisi tanah, kehidupan mikroba, dan respons tanaman bawang merah Lokal Palu.”Tim peneliti ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam tanah ketika lahan menerima tekanan insektisida dengan intensitas berbeda,” kata Sri Sudewi.
Menurutnya, penelitian tidak hanya mengamati tanaman. Tim juga menganalisis sifat fisik dan kimia tanah, jumlah mikroba, tingkat kehijauan daun, serta penyerapan unsur hara oleh umbi.Dalam penelitian tersebut, tim membandingkan empat kategori lahan berdasarkan tingkat tekanan insektisida. Kategorinya mulai dari lahan tanpa insektisida hingga lahan dengan intensitas penggunaan insektisida tinggi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan insektisida tinggi diikuti penurunan sejumlah indikator kesuburan tanah. Kandungan fosfor tersedia (P₂O₅) menurun sebesar 85,95 persen. Kalium tersedia (K₂O) juga turun sebesar 63,08 persen. Sementara itu, kapasitas tukar kation tanah menurun sekitar 55,20 persen.
Kapasitas tukar kation merupakan salah satu indikator kemampuan tanah dalam mengikat, menyimpan, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Penurunan nilai tersebut menunjukkan berkurangnya kemampuan tanah mempertahankan unsur hara.
Populasi mikroba ikut tertekan
Tekanan insektisida juga terlihat pada perubahan populasi mikroba tanah. Pada lahan dengan intensitas penggunaan insektisida tinggi, kelompok mikroba yang menyerupai aktinomisetes menurun sekitar 48,11 persen. Jumlah koloni bakteri juga berkurang sekitar 18,08 persen.
Aktinomisetes dan bakteri memiliki peran dalam penguraian bahan organik, siklus unsur hara, serta keseimbangan biologis tanah. Penurunan populasinya menjadi salah satu indikator adanya tekanan terhadap ekosistem tanah.”Pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan insektisida tidak hanya berhubungan dengan pengendalian hama. Penggunaan yang terlalu intensif juga dapat diikuti oleh perubahan pada kesuburan tanah, kehidupan mikroba, dan kemampuan tanaman memanfaatkan unsur hara,” ujar Sri Sudewi.
Kondisi tanaman tidak cukup dilihat dari warna daun
Penelitian juga mengukur nilai Soil Plant Analysis Development (SPAD) sebagai indikator tingkat kehijauan daun yang berkaitan dengan kandungan klorofil.Nilai SPAD tertinggi ditemukan pada kategori tekanan insektisida menengah, yakni 55,22. Namun, pada tekanan insektisida tertinggi, nilai SPAD turun menjadi 30,28.
Penurunan juga terjadi pada total serapan nitrogen, fosfor, dan kalium oleh umbi, dari 7,53 persen menjadi 6,07 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kehijauan daun tidak cukup menjadi satu-satunya indikator untuk menilai kondisi tanaman.
Kondisi tanah, ketersediaan unsur hara, populasi mikroba, dan kemampuan tanaman menyerap nutrisi perlu dilihat secara terpadu. Keempat komponen tersebut saling berkaitan dalam sistem tanah-tanaman-mikroba.
Tiga mikroba masih ditemukan
Di tengah perubahan kondisi tanah dan penurunan sejumlah kelompok mikroba, penelitian menemukan tiga mikroba dominan melalui identifikasi molekuler, yakni Aspergillus niger, Trichoderma asperellum, dan Bacillus cereus.
Aspergillus niger merupakan cendawan yang umum ditemukan di tanah dan berperan dalam penguraian bahan organik. Sementara itu, Trichoderma asperellum dikenal sebagai cendawan tanah yang dapat berinteraksi dengan akar tanaman dan berpotensi menekan sejumlah patogen penyebab penyakit.
Adapun Bacillus cereus dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah pertanian. Meskipun terdeteksi sebagai salah satu mikroba dominan, pemanfaatannya sebagai agen hayati tetap memerlukan identifikasi hingga tingkat strain dan pengujian keamanan hayati secara ketat.
Sri Sudewi menegaskan bahwa keberadaan ketiga mikroba tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa semuanya dapat langsung dimanfaatkan sebagai agen hayati.”Sebagian mikroba memang masih mampu bertahan, tetapi tanah tetap menunjukkan tanda-tanda tekanan. Temuan mikroba tersebut menjadi titik awal bagi kami untuk mencari kemungkinan solusi pemulihan fungsi tanah,” jelasnya.
Penelitian berlanjut pada aplikasi mikroba
Tim peneliti kini melanjutkan kajian untuk menguji aplikasi mikroba tanah pada lahan yang telah terpapar insektisida dan digunakan untuk budidaya bawang merah Lokal Palu.
Mikroba yang telah melalui proses seleksi dan pengujian keamanan akan diaplikasikan dalam dua bentuk, yaitu secara tunggal dan dalam bentuk konsorsium. Aplikasi tunggal bertujuan mengetahui kemampuan masing-masing mikroba. Sementara itu, aplikasi konsorsium menggabungkan beberapa mikroba dengan karakter dan fungsi berbeda.
Penelitian lanjutan diarahkan untuk mengetahui kemampuan mikroba terpilih dalam bertahan setelah diaplikasikan, membantu memperbaiki fungsi biologis tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, serta mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah Lokal Palu.”Kami tidak hanya ingin mengetahui mikroba apa yang ditemukan. Tahap berikutnya adalah menguji apakah mikroba terpilih, baik secara tunggal maupun konsorsium, dapat membantu tanah yang telah terpapar insektisida dan memberikan pengaruh positif terhadap tanaman bawang merah,” ujar Sri Sudewi.
Penggunaan insektisida tetap perlu dikendalikan
Hasil penelitian tersebut tidak berarti penggunaan insektisida harus dihentikan sepenuhnya. Insektisida tetap diperlukan ketika serangan hama telah mencapai tingkat yang merugikan.
Namun, penggunaannya perlu dilakukan secara tepat dengan mempertimbangkan hasil pemantauan hama, dosis yang direkomendasikan, waktu aplikasi, dan pergiliran bahan aktif.Tim peneliti juga mendorong penguatan prinsip pengendalian hama terpadu melalui pemanfaatan agen hayati yang telah teruji, musuh alami, varietas tahan, sanitasi lahan, serta penambahan bahan organik.
Temuan penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi pengembangan pengelolaan bawang merah Lokal Palu yang lebih produktif dan berkelanjutan. Keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh pengendalian hama, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kesuburan tanah dan kehidupan mikroba di dalamnya.(tim)






