PESONA ALAMI TELAGA TAMBING

  • Whatsapp
Dr. H Kasman Jaya Saad, M.Si (ist)

Perjalanan saya ke telaga Tambing, bukan suatu yang disengaja. Tugas mengantarku melewati  telaga itu, tepatnya tugas advokasi pemberdayaan perempuan di desa Watumaeta kecamatan Lore Utara dari DP3A Kabupaten Poso. Dan sekembali dari kegiatan, saya mampir menikmati telaga Tambing yang indah itu. Jujur, baru pertama kali saya menginjakkan kaki di telaga itu. Namun informasi tentang keindahan panorama alamnya sudah lama saya ketahui.

Siang, jam dilengan kiri saya menunjukkan pukul 13.49 ketika masuk di kawasan telaga Tambing. Pesona kabut di sekitar telaga yang menjadi keistimewaannya, sudah tak terlihat siang itu. Hilang bersama panas mentari yang telah lama meneranginya. Namun kesejukannya masih begitu terasa.  Rimbun pohon hijau berambur menebar pesona di sepanjang telaga.  Keragaman hayati yang terjaga merupakan pesona lain yang memikat. Berbagai jenis pohon peneduh dari pohon endemik seperti  Leda, Damar dan lainnya mengintari kawasan itu yang tak jenuh dan selalu girang melepaskan angin sepoi kesejukan yang dibutuhkan makhluk lainnya, seperti saya disiang itu. Dan disela berbagai pohon, tersusun dengan rapi berbagai jenis anggrek bercorak warna menarik, tak henti menawarkan harumnya pada ragam jenis kupu-kupu berbagai corak warna pula, sungguh simbiosis mutualisme yang memikat dan penyatuan warna alam yang menarik serta penuh makna.

Telaga Tambing yang juga disebut Rano Kalimpa’a berada Kawasan Taman Nasional Lore Lindu, tepatnya di desa Sedoa, berada di jalan raya poros Palu-Napu, kurang lebih 90 km dari pusat kota Palu. Telaga seluas 6 hektare itu berada di ketinggian sekitar 1700 meter dari permukaan laut. Memiliki suhu yang cukup dingin karena hutannya masih terjaga dan terpelihara dengan baik. Sebagai bagian dari upaya menjaga kelestariannya, maka pihak pengelola Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dan Pemerintah Kabupaten Poso memberi beberapa aturan atau pesyaratan untuk memasuki kawasan telaga itu.  Sesuatu yang wajar, dan perlu, mengingat keberadaan kawasan telaga ini  bukan saja penting bagi kita untuk menikmati keberlanjutan pesona keindahan alamnya, namun juga “rumah” bagi banyak makhluk hidup/satwa lainnya. Dilaporkan bahwa telaga tambing  merupakan rumah bagi 260 varian burung. Dengan kekayaan spesies burung itu, wajar jika telaga tambing dijuluki ‘surga burung’. Menariknya lagi, sebesar 30% spesies yang hidup di telaga ini merupakan spesies endemik. Dan di kawasan telaga itu juga dilaporkan berkembang biak dengan baik satwa endemik lainnya seperti Rangkong, Nikjar, Anoa, Tarsius Pumilus dan Elang Sulawesi. Keberadaan ragam satwa itu, saling  membutuhkan satu sama lain untuk menjaga keseimbangan ekologis mereka, agar kehidupan terus berlanjut.  Dan di telaga Tambing kutemukan keseimbangan dan keterpeliharaan itu.

Sebagai kawasan konservasi, telaga Tambing juga memaknai dirinya begitu baik dalam hubungannya dengan kebutuhan manusia, dalam hal ini kebutuhan memperoleh keindahan alam. Meski dikunjungi banyak orang setiap akhir pekannya untuk camping pitch atau  maksud lain, namun pesona alamnya tetap terpeliharan dan terjaga.  Bahwa konservasi memang perlu dipahami bukan sebagai bentuk larangan bagi manusia untuk memanfaatkan alam, namun bagaimana pengelolaannya agar dapat berkelanjutan. Dan telaga Tambing sebagai lokasi wisata alam akan terus memberikan keindahannya untuk dinikmati bila pengelolaan seperti saat ini. Ketat dalam aturan pengelolaannya.

Dalam perspektif estetika, bahwa keindahan itu merupakan sifat dan ciri dari tempat dan objek yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Nuansa dan pesona keindahan alam itu hanya mampu menyenangkan atau memuaskan hati kita itu tidak lain hanyalah sesuatu yang “dikelolah dengan baik” dan yang “ditata dengan indah”. Maka keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan  itu manusia merasa nyaman hidupnya. Jadi itu sebab bila konservasi suatu kawasan dilakukan, layaknya yang saya nikmati di telaga Tambing merupakan bagian dari cara manusia juga untuk memperoleh keuntungan dari alam itu, berupa keindahan dan terjaganya keseimbangan ekologis di kawasan itu.

Dalam kebahagian yang kurasa siang itu, tertitip harapan semoga pesona alami telaga Tambing dengan berbagai keragaman hayatinya dapat terus terpelihara dan terjaga. Ada pembelajaran berharga bahwa bila konservasi alam itu dilakukan dan dimaknai secara baik, maka keindahan alam akan terus dinikmati. “Jaga alam, maka engkau akan menikmati indahnya” Gumanku dalam hati yang masih merasakan pesona alami telaga Tambing.(Dr. H Kasman Jaya Saad, M.Si, Dosen Universitas Alkhairaat Palu)

Pos terkait