PALU-Puluhan mahasiswa dari sejumlah fakultas di Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu mengikuti pelatihan pembelajaran membaca kritis berbasis digital, Jumat (30/10/2026) pagi. Pelatihan ini menghadirkan pemateri, Sri Rumiyatiningsih Luwity, S.Pd, M.Pd, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo.
Pelatihan dengan tema Tingkatkan Budaya Literasi Mahasiswa di Era Digital ini berlangsung di Aula Fakultas Agama Universitas Alkhairaat Palu. Hadir dalam kegiatan tersebut, Dekan Fakultas Sastra Unisa Palu, Syamsuddin, S.S., M.Si, Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Personalia Suparni S.Pd, M.Pd, Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Rizky Anugrah Putra, M.Pd, Ketua Unit Penjamin Mutu Fakultas Sastra Unisa, Mochammad Muchlis Romadon, M.Pd dan staf Fakultas Sastra Unisa Palu.
Dekan Fakultas Sastra Unisa Palu, Syamsuddin, S.S., M.Si dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada pemateri yang bersedia hadir di Palu untuk berbagi ilmu pengetahuan serta pengalaman kepada mahasiswa khususnya di Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu. Apalagi materi yang dibawakan, kata dekan, sangat bermanfaat dalam menambah wawasan mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan membaca berbasis digital. ‘’Di era digital saat ini, mahasiswa dominan membaca melalui aplikasi digital.Beragam platform bisa dipilih untuk mencari dan mendapatkan informasi maupun ilmu pengetahuan dan referensi tugas dari dosen,’’tandasnya.
Sementara itu, Sri Rumiyatiningsih Luwiti, S.Pd, M.Pd selaku pemateri pelatihan menjelaskan bahwa hadirnya teknologi digital saat ini, banyak memberikan dampak positif bagi mahasiswa. Beragam aplikasi yang ada, sangat membantu meningkatkan minat mahasiswa. Namun dalam memilih bahan dan sumber bacaan, lanjutnya, mahasiswa harus kritis agar bisa memahami isinya dengan baik. ‘’Jadi mahasiswa tidak sekadar membaca tapi tidak memahami apa yang dibaca. Mahasiswa juga tidak boleh sekadar menyerap informasi mentah-mentah tanpa menganalisis isi teks yang dibaca,’’jelasnya.
Sri Rumiyantiningsih menyebutkan, ada beberapa alasan utama pentingnya membaca kritis yakni agar informasi bisa tersaring dengan baik dan menghindari hoaks. Selain itu, mahasiswa bisa mengidentifikasi bahasa bias dan penafsiran implisit serta membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat.’’Keputusan yang didasarkan pada evaluasi teks dan data bacaan yang matang jauh lebih berdasar dan minim resiko. Baik itu di lingkungan akademis maupun kehidupan sehari-hari,’’terangnya lagi.
Di akhir materinya, ia menitip pesan kepada mahasiswa bahwa keberadaan teknologi digital membuat mahasiswa tidak menjadi konsumen informasi yang pasir melainkan dituntut tanggung jawab moral dan intelektual dalam menjaga kualitas wacana publik.(Ryan)






