PENDIDIKAN KITA KEHILANGAN ROLE MODEL

  • Whatsapp
Dr.H. Kasman Jaya Saad, M.Si (ist)

Hari ini, tanggal 2 Mei, diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari Pendidikan Nasional untuk mengenang hari kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara pada 2 Mei 1889. Agar tak sekedar rutinitas tahunan, maka hari pendidikan seharusnya dilakukan refleksi. Membuka diri, membuka lembaran-lembaran capaian pendidikan dan seperti apa produk pendidikan selama ini. Pelaksanaan pendidikan sesungguhnya berfungsi untuk melahirkan anak didik yang berintegritas, terampil dan memiliki kecerdasan sosial di mana mereka akan lebih memahami lingkungan dan karakter masyarakat yang berbeda-beda, sehingga menjadi pribadi yang lebih bermartabat. Namun akhir-akhir ini, marak terjadi didunia pendidikan perilaku sebaliknya, seperti terjadi perundungan (bullying), kekerasan seksual, perilaku intoleransi dan fraud (kecurangan) akademik tenaga pendidik. Pengajaran pun sekedar formalitas an sich, karena ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah begitu merajalela. Tradisi umat manusia untuk mempertahankan eksistensi mereka melalui pendidikan mendapat tantangan, karena pendidikan ternyata bagi sebagian kita juga digunakan untuk mengakumulasi kapital dan mendapatkan keuntungan.

Banyak program yang telah ditelorkan para pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini, namun miskin komitmen dan kepatuhan para pelakunya. Pelaku pendidikan masih terjebak pada sistem administrasi pendidikan, ketentuan-ketentuan birokrasi, akreditasi, nilai dan ujian, serta sibuk menyiapkan berkas ini dan itu. Dan itu sudah menjadi tujuan bahkan menjadi prioritas. Kita tak mampu membedakan mana cara dan tujuan, sehingga cara dijadikan tujuan.

Selama ini pendidikan “nampaknya” juga masih dimaknai pada keterpenuhan aspek kognitif anak didik, namun miskin pendalaman afektif (penanaman nilai/moral) dan psikomotorik (keteladanan dalam berperilaku). Bukankah aspek kognitif mudah dituturkan, namun bagaimana aspek perilaku pendidik yang harusnya memberi contoh atau menjadi role model bagi anak didik. Bila guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari, begitu pepatah menggambarkan. Olehnya penting komitmen dan kepatuhan itu dalam diri seseorang pendidik.  Dan kita dapat belajar bagaimana komitmen dan kepatuhan para leluhur, para orang tua kita duhulu mempraktekkannya. Bagaimana mereka menghidupkan nilai-nilai kebaikan yang diperolehnya dalam dunia pendidikan.  Mereka memaknai pendidikan bukan hanya transfer of  knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi sesama. Dan para leluhur kita tak pernah berpikir jalan pintas (shortcut) untuk mencapai sesuatu, termasuk dalam memperoleh pendidikan. Tak seperti anak negeri sekarang ini, jalan pintas menjadi kegemaran. Demi selembar ijazah, segala cara dilakukan, tak peduli itu melanggar aturan dan etika akademik. 

Dan para leluhur tak “hebat” berdebat dan bersilat lidah,  mereka patuh- istiqomah dalam kata dan perbuatannya. Hidupnya bersahaja. Tidak serakah. Menjaga hidupnya dengan keberkahan. Dan itu sebab mereka tidak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Kesederhanaan dalam hidup dipertontonkan. Buah dari pendidikan yang diperolehnya tak sekedar dinikmati sendiri namun benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan kesehariannya. Komitmen dan kepatuhan itu begitu membumi dalam setiap gerak lakunya.  Tak seperti yang kita saksikan skerang,  begitu membanggakan diri orang yang berpendidikan tapi miskin komitmen dan kepatuhan. Itu sebab etika makin jauh dalam pribadi banyak orang terdidik di negeri ini. Hukum lumpuh tak kuasa meredam penyalahgunaan kekuasaan. Hukum tajam ke bawah dan makin tumpul ke atas.

Mereka para leluhur juga, menjadikan kejujuran dan ucapan yang benar sebagai pagar kehidupannya. Tak akan berani melakukan kebohongan. Dan itu tertanam dalam benaknya.  Mereka tak kompromi bila ada sesuatu tak sesuai aturan. Sikapnya tegas dalam kata, teguh dalam perbuatan dan janji-komitmen.  Dan itu tak lazim ditemukan sekarang, sebagai produk pendidikan kini,  justru yang terjadi adalah omongan dengan perbuatan saling bertolak belakang,   dan itu menjadikan pendidikan tak punya daya magis lagi.   

Bila berharap pendidikan  sungguh-sungguh dapat menjadi faktor pendorong bagi kemajuan peradaban umat manusia, maka diperlukan komitmen dan kepatuhan. Pendidik tak sekedar mengajar, namun harus menjadi role model, menjadi teladan. Hukum keteladanan (role modeling) adalah hukum alam yang universal.  Sebagai pendidik, kita harus mampu mempertontonkan peran dan fungsi itu dengan benar.(Dr.H. Kasman Jaya Saad, M.Si, Dosen Universitas Alkhairaat Palu)

Pos terkait