Turunkan Stunting, BKKBN Sulteng Optimalkan Pengasuhan 1000 HPK

  • Whatsapp
Ketua Tim 20 Layanan Perkantoran Umum dan Kehumasan BKKBN, Aprianto Parubak saat ditemui media ini, Rabu (7/6/2023) pagi.(syahrul/mediasulawesi.id)

PALU – Dalam upaya menekan percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tengah, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Sulawesi Tengah mengoptimalkan pengasuhan 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) pada anak.

Hak itu dikatakan Ketua Tim 20 Layanan Perkantoran Umum dan Kehumasan BKKBN, Aprianto Parubak, Rabu (7/6/2023) pagi. “Kami terus berupaya agar angka prevalensi stunting di Sulawesi Tengah ini bisa menurun,” ungkapnya.

Ia menegaskan,  pemberian edukasi terkait pengasuhan pada anak penting untuk diketahui oleh keluarga atau calon orang tua sejak sebelum terjadinya konsepsi (pertemuan sel telur dengan sel sperma) sampai 1.000 hari pertama kehidupan anak setelah dilahirkan. Adapun 1.000 hari pertama kehidupan anak  merupakan periode emas yang perlu digunakan sebaik-baiknya untuk memberikan pengetahuan-pengetahuan yang dapat meningkatkan kesehatan ibu.

Pilihan Redaksi :  LKP Aqvir Latih 20 Peserta Didik Keterampilan Tata Busana

Hal ini dilakukan, sebutnya, agar anak dapat tumbuh sehat dan terhindar dari stunting sampai dengan usia dua tahun. Bahkan, bebernya, pihak BKKBN memiliki Satuan Tugas (Satgas) yang bertugas dalam memberikan sosialisasi serta penyuluhan terkait pengasuhan 1.000 HPK, juga mengoptimalkan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di setiap kabupaten dan kota dalam rangka percepatan penurunan angka stunting di provinsi itu.

Dikatakannya, orang tua perlu melalukan pemantauan rutin guna memeriksa tumbuh kembang bayi agar tidak ada kelainan status gizi, dan tumbuh kembang pada anak sehingga lebih mudah diobati bila terdeteksi dari awal. “Khususnya dalam memberikan edukasi soal asupan gizi pada anak sejak dalam kandungan, untuk dapat mencegah anak lahir stunting,” tekannya.

Pilihan Redaksi :  PBSI Dukung Atlet PWI Sulteng Berlaga di Porwanas

Adapun faktor penyebab stunting, menurut dia, disebabkan praktik pengasuhan yang kurang baik karena kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah melahirkan. Sementara itu, berdasarkan data SSGI 2022, angka prevalensi stunting Sulawesi Tengah itu sendiri kini bertengger di angka 28,2 persen dan mengalami penurunan sedikit dari tahun tahun 2021 sebesar 29,7 persen.(SCW)

Pos terkait