Tili, Sosok Penakluk Buaya Berkalung Ban

  • Whatsapp
Tili (kanan), sang penakluk buaya berkalung ban tengah memegang anak buaya berkalung ban.(sam/mediasulawesi.id)

DERITA seekor buaya yang terjerat lehernya oleh ban motor di Kota Palu, Sulawesi Tengah dan mendunia berakhir sudah. Sang buaya akhirnya terbebas dari siksaan yang menderanya selama bertahun-tahun.

Adalah, Tili (34 tahun), sosok yang berhasil menaklukkan buaya yang sebagian masyarakat Palu menganggapnya bukan buaya sembarangan. Luar biasa. Hanya bermodalkan tali jerat sederhana dengan kawat besi, pemuda kelahiran Sragen yang sehari-harinya adalah pecinta burung  ini mampu menangkap buaya yang beratnya hampir satu ton dengan panjang lebih empat meter.

Kemampuan Tili ini tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia mampu mengalahkan reputasi pemerhati reptil liar internasional sekelas Matt Wright (Australia), Forest Galante (Amerika Serikat) maupun dari Indonesia, Panji Petualang. Mereka sudah dua kali ke Palu untuk menaklukkan sang buaya dengan membawa peralatan lebih canggih. Namun upaya mereka tidak membuahkan hasil.

Pilihan Redaksi :  Fakultas Sastra Unisa Resmi Kerjasama Dengan Undhira Bali

Lalu apa kiat Tili bisa menangkap buaya tersebut?  Saat ditemui di rumahnya di Komplek Perumahan Berlian Land, Tili yang baru lima bulan menetap di Palu membeberkan cara penangkapannya. Butuh waktu tiga bulan bagi Tili untuk memantau keberadaan sang buaya. ‘’Saya tadinya ke Palu bukan untuk menangkap buaya mas. Tapi pas dengar cerita orang kalo di Palu ada buaya berkalung ban dan tidak bisa dilepaskan ban di lehernya, saya tertantang untuk melepaskannya. Saya pun memantau selama tiga bulan di tempat yang dia (buaya,red) biasa nongol,’’terangnya.

Selain memantau sang buaya, Tili mengaku juga melakukan pendekatan dan cara berkomunikasi secara khusus. Ia percaya bahwa untuk mendekati hewan liar itu tidak cukup dengan keberanian tapi juga harus sopan dan tidak boleh takkabur. Hal itulah kata dia yang menjadi salah satu penyebab selama ini kegagalan menangkap buaya tersebut.

Pilihan Redaksi :  Fakultas Sastra Unisa Gelar Bimtek Proposal Hibah Penelitian Abdimas

Kiatnya itulah yang menjadi cara jitu menaklukkan sang buaya. Setelah memantau selama tiga bulan, ia pun memutuskan menangkap sang buaya tersebut setelah menyiapkan alat jerat sederhana. Tak hanya itu, ia juga menjadikan umpan seekor buaya berusia satu minggu. Buaya kecil itu diklaim sebagai anak buaya. ‘’Saya dapat di sarang buaya berkalung ban. Ini anaknya,’’akunya lagi.

Kini Tili menjadi sosok dikenal dan viral dimedia massa maupun media sosial karena kemampuannya menaklukkan buaya berkalung ban. Namun bagi Tili, itu bukan niatnya menjadi terkenal dengan keberaniannya menangkap buaya. Ia hanya berusaha membantu melepaskan ban motor yang menjerat di lehernya. ‘’Saya ikhlas mas membantu melepaskan ban motor itu. Cuman itu tujuan saya. Kebetulan saya memang pecinta binatang liar.termasuk buaya,’’tambahnya.(sam)

Pos terkait