TENTANG KEBAHAGIAAN

  • Whatsapp
Dr. H. Kasman Jaya Saad, M.Si (ist)

Ngopi Subuh (ngobrol perkara iman) di mesjid dekat rumah, menghadirkan kawan yang juga seorang tenaga pendidik di universitas negeri di daerah ini. Dr.Ipul, begitu kami menyapa beliau, didaulat menyampaikan materi ngopi subuh. Menarik, karena beliau menceritakan bagaimana negeri tempat beliau Study S3, tepatnya di Copenhagen Denmark dikenal dengan tingkat korupsi yang paling rendah dan negara masyarakatnya yang paling bahagia menurut laporan World Happiness Report (WHR). Indikasi poin kebahagiaan yang dirilis oleh WHR disusun berdasarkan enam faktor. Enam faktor tersebut adalah jumlah pendapatan, harapan hidup sehat, dukungan sosial, kebebasan dan kemerdekaan, kepercayaan terhadap pemerintah yang berkaitan tingkat korupsi, dan kedermawanan warga negara.

Kawan inipun menceritakan pengalamannya selama menempuh pendidikan lebih kurang tiga setengah tahun di Copenhagen, dan mencoba membandingkan dengan perilaku masyarakat kita di Indonesia. Masyarakat Denmark seperti yang diamatinya, memang mengedepankan kedisiplinan, kejujuran dan kepercayaan.   Seorang anak yang tidak hadir sekolah karena sakit misalnya cukup menyampaikan lewat whatsApp atau media sosial lain kepada gurunya bahwa dia sakit, maka guru dan institusi itupun menyakini bahwa anak itu  benar-benar sakit tanpa harus ada keterangan dokter atau surat semacamnya seperti kita di Indonesia. Hal itu juga terjadi pada hubungan pegawai atau buruh dengan atasannya. Di Denmark kepercayaan itu sangat terjaga, sehingga hubungan pemerintah dan rakyatnya juga terbangun dengan baik, karena ada saling percaya. Itu sebabnya juga angka korupsi juga rendah, nyaris tak ada laporan korupsi, karena pemerintahnya begitu “Care” dengan rakyatnya, negara betul-betul terasa kehadirannya. “Itu sangat terasa selama saya disana, bagaimana setiap urusan begitu pasti waktunya, tak ada penyuapan, dan semua dilakukan dengan penuh kejujuran dan kepastian. Kepastian menjadi langkah kita di sini, untuk suatu kewajiban kepada negara, membayar pajak saja misalnya  kita masih sering di buat tidak pasti, bagaimana dengan hak kita, pasti selalu dibuat molor”.

Hal lain menurut beliau, masyarakat Denmark menikmati hidup tanpa harus berkelimpahan, hidup secukupnya serta tidak mau diperbudak dengan kesuksesan, gemar membagi dan mempunyai filosofi, hidup  tak perlu kemaruk, tidak hidup berlebih. ”Banyak kali saya temukan kereta bayi, pakaian bayi dan alat dapur lain mereka bagikan secara gratis, didepan rumah mereka simpan, ditulis silahkan ambil, Free. Kepedulian antar mereka begitu terbangun, dan mereka menyakini bahwa apa yang mereka berikan itu suatu saat bila mereka butuh, mereka juga akan dibantu. Sebenarnya masyarakat kita juga tak kalah pedulinya, bahkan lebih spontan, hanya saja spontanitas itu sering kali dirusak oleh banyak kegiatan proyek pembangunan yang menghancurkan perilaku spontanitas itu”.

Menarik juga, lanjut cerita kawan ini, bahwa masyarakat Denmark  juga memiliki tingkat keinginan (ekspektasi) untuk hidup mewah dan gemerlap cukup rendah.  Kesuksesan kecil saja sudah membuat mereka bahagia, dalam bahasa kita bahwa mereka cepat bersyukur. Mereka mendahulukan rasa bersyukur dan hidup secukupnya dan jika gagal, mereka tidak terlalu larut dalam kesedihan, namun cepat bangkit. Ini menyebabkan tingkat stress orang di negara Denmark begitu rendah.   “Beda dengan kita yang sering dikejar target, harus sukses, harus kaya. Hidup kita menjadi salah arah, karena menganggap harta dan kedudukan adalah segala-galanya, makanya kita mudah stress. Jiwa  yang stress sudah pasti akan meronrong kebahagiaan”.

Makin tinggi ekspektasi warga suatu bangsa, makin sering tidak puas (stress) dan sulit bahagia. Orang Jepang rata-rata gila kerja, jalannya saja seperti dikejar hantu dan mempunyai ekspektasi yang tinggi dalam hidupnya oleh WHR, Indeks kebahagiaan orang Jepang hanya diurutan 58. Dan negeri kita, Indonesia ternyata juga tertinggal jauh soal kebahagiaan, hanya berada di peringkat ke 92, rilis WHR 2019.  Dan  Survei lain, yang lebih memfokuskan hasil temuannya terkait kebahagiaan, menyimpulkan bahwa kebahagiaan orang di dunia tidak bertambah secara signifikan sejak tahun 1950.  Ini makin membuktikan bahwa modernisasi dengan kemajuan teknologi, dan ekonomi serta kemajuan lainnya yang dibanggakan manusia, tidak serta merta dapat membuat manusia bahagia.

Dari cerita kawan ini, memberi banyak makna bahwa  bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kaya, tenar, kuasa dan suksesnya. Namun yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri, mensyukuri semua yang sudah dimiliki. Dan terpenting bahwa negara juga harus hadir, negara harus merespon kebutuhan masyarakatnya, kepercayaan harus ditumbuhkan, dengan kerja-kerja  nyata.

Akhirnya, kebahagiaan itu tak ke mana, dan bukan dijabatan dan kekayaan. Kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Olehnya siapapun bisa merasakan bahagia itu dan teruslah berbagi dan baik dengan sesama.  Trims Pak Dr.Ipul dan berkah selalu untuk jamaah Mesjid Al -Azhar dengan Ngopi Subuhnya.(Dr. H. Kasman Jaya Saad, M.Si, Dosen Universitas Alkhairaat Palu)

Pos terkait