Di sebuah café di tengah kota, saya ikut masuk dan larut dalam beragam aktifitas didalamnya. Meski laptop dan buku sudah siap didepan mata, telinga saya sesekali tidak lepas dari obrolan disekitar yang menjadikan suasana café lebih hidup. Termasuk dua anak muda yang sedang membicarakan tentang karir mereka. Salah satu diantara mereka berucap: “Iyo S.Pd, ta colo sebenarnya mo ambil Teknik”. Saya sebagai dosen bidang Pendidikan tidak kaget mendengarkan hal tersebut. Karena jurusan pendidikan biasanya menjadi opsi terakhir/cadangan.
Ungkapan penyesalan ini akan terus terjadi, selama profesi Pendidikan tidak menjanjikan karir yang baik seperti profesi dibidang lainnya. Kita masih berkutat dengan slogan profesi Pendidikan yang mulia, Pendidikan Adalah pengabdian dan Ikhlas beramal. Sebuah anomali, karena harusnya hal tersebut menggambarkan pekerjaan di bidang pendidikan layak menjadi pilihan, bukan keterpaksaan. Sayangnya, kita masih melihat beragam kegetiran bagi mereka yang mengambil profesi ini. Tanpa masa depan, apalagi dengan wacana penutupan prodi bidang keguruan yang mengindikasikan bahwa bidang ini tidak memberikan dampak bagi negara.
Pendidik dalam hal ini Guru/Dosen, bukan hanya bertugas untuk mentransmisikan pengetahuan, seperti fungsi tradisional pada umumnya. Akibat definisi tersebut, pendidik terlepas dari realitas kehidupan dan minim partisipasi terhadap terbentuknya masyarakat demokratis. Menurut Freire, Pendidikan tidak pernah netral. Lebih jauh, Pendidikan dapat berfungsi sebagai alat pembebasan atau hanya penjaga status quo. Sehingga dibutuhkan pendidik sebagai aktor politik Pendidikan, yang memahami bahwa profesi Pendidikan harus diperjuangkan.
Serikat Pekerja Kampus misalnya, mengajukan judicial review terhadap Undang-undang Guru dan Dosen, karena realitanya terdapat Dosen yang diupah dibawah UMR. Selain itu, ada Reza (guru honorer) yang menggugat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena telah mengambil porsi anggaran Pendidikan. Di Gorontalo, akhir Desember 2025 ada 100 guru yang melakukan demonstrasi di kantor Gubernur dengan penuh harap agar pengabdian selama bertahun-tahun dapat dihargai.
Perubahan yang diharapkan tidak hadir begitu saja, dalam bukunya Pengajar Sebagai Pekerja Budaya: Surat Cinta Untuk Mereka Yang Berani Mengajar, Freire menyatakan kita butuh lebih dari cinta untuk melakukan perubahan. Cinta dengan profesi yang dijalani dengan sepenuh hati, Cinta ini “bersenjata” karena digunakan sebagai alat untuk memperjuangkan pembebasan kaum tertindas, melawan ketidakadilan, dan merobohkan struktur pendidikan yang menindas (pendidikan gaya bank).
Selama kita tidak menyadari hal ini, kita tidak akan menyentuh akar persoalan. Tinggal menunggu waktu akan matinya profesi dibidang Pendidikan. Kita bisa memilih cara matinya seperti apa, mati secara perlahan akibat rendahnya minat menjadi pendidik. Atau mati karena dibunuh kebijakan yang tak pernah berpihak.(Mohamad Riyandi Badu, Dosen Universitas Negeri Gorontalo)






