JAKARTA — Universitas Sahid Jakarta melalui Sekolah Pascasarjana kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan pemikiran kritis di bidang komunikasi global dengan menyelenggarakan diskusi intelektual bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia?” pada Jumat, 10 April 2026. Forum ini menghadirkan tiga mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi yang mengulas konflik AS–Israel versus Iran dari perspektif geopolitik, strategi militer, serta komunikasi global berbasis teknologi.
Diskusi ini menjadi bagian dari komitmen akademik USAHID dalam menghadirkan ruang dialog ilmiah yang responsif terhadap dinamika global, sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis strategis lintas disiplin di era disrupsi teknologi dan informasi.
“Tugas seorang akademisi adalah hadir di titik paling panas persoalan zaman. Diskusi ini adalah tanggung jawab keilmuan kita sebagai bagian dari masyarakat global.”
— Dr. Prasetya Yoga Santoso, Kaprodi Doktoral Ilmu Komunikasi USAHID Jakarta Perang Bukan Lagi Fisik, Tapi Epistemologis
Menyoroti perang Iran-Israel & Amerika Serikat, salah satu nara sumber Henry Sianipar, Executive Producer Liputan6 SCTV, menyoroti perang modern saat ini tidak hanya mengandalkan rudal dan peralatan perang terbaru, tetapi juga keterlibatan AI. Henry mengungkapkan bahwa AI bukan sekadar alat perang, melainkan telah bertransformasi menjadi entitas yang membentuk realitas itu sendiri. “AI bukan hanya senjata. AI adalah pembentuk realitas dan pengambil keputusan. Media dan algoritma adalah medan perang utama abad ke-21,” paparnya.
Henry yang pernah bekerja sebagai Produser Siaran Indonesia BBC World Service menegaskan bahwa dunia sedang berada dalam paradigma perang yang sama sekali baru. “Kita bukan menuju satu perang besar, TETAPI kita SUDAH BERADA di era PERANG PERMANEN MULTI-DIMENSI,” tegas Henry di hadapan puluhan mahasiswa dan akademisi.
Henry menjelaskan bahwa perang modern telah bergeser dari medan tempur fisik ke medan pertempuran narasi dan kebenaran. “Dalam perang AI, siapa yang mengontrol algoritma, dialah yang mengontrol kebenaran,” ujarnya dengan tegas.
Pernyataan ini didukung oleh analisis mendalam tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI) telah menjadi weapon of mass perception. “Ketika algoritma menjadi arbiter kebenaran, demokrasi informasi terancam runtuh,” tambah Henry yang juga merupakan mahasiswa Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan 33 ini.
Bukan Perang Sporadis—Ini Skenario Lama
Fathurrahman Yahya menegaskan bahwa konflik ini merupakan bagian dari konstruksi geopolitik jangka panjang pasca-Perang Dingin 1991. Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perebutan energi global.
“Ini perang untuk menentukan siapa yang menguasai jantung energi dunia. AS mendukung Israel dan menekan Iran karena kombinasi tiga kepentingan: energi, keamanan, dan geopolitik.” — Fathurrahman Yahya, Analis Timur Tengah, DIK 29
Endgame Iran: Lemah, Tapi Tak Hancur
Didin Nasirudin memproyeksikan bahwa Iran tidak akan runtuh meskipun menghadapi tekanan militer besar, dengan strategi perang asimetris berbasis drone dan jaringan proxy.
“Endgame yang paling mungkin adalah gencatan senjata tanpa pemenang mutlak. Iran melemah, tapi tidak hancur. Selat Hormuz dibuka kembali dengan aturan main baru.” — Didin Nasirudin, Konsultan Komunikasi Global & Pengamat Politik AS, DIK 35
USAHID sebagai Ruang Produksi Pengetahuan Strategis Ilmu Komunikasi
Program Doktor Ilmu Komunikasi USAHID berperan dalam membentuk akademisi yang memahami komunikasi sebagai arena produksi makna dan kekuasaan. Perang modern adalah konstruksi realitas berbasis teknologi, media, dan algoritma. Literasi media dan kecerdasan komunikasi strategis menjadi kunci dalam menghadapi era ini.
Di era ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh algoritma, siapa yang sesungguhnya mengendalikan realitas? Dalam konteks ini, Universitas Sahid Jakarta memposisikan diri sebagai ruang produksi pengetahuan strategis melalui Program Doktor Ilmu Komunikasi yang membentuk akademisi kritis untuk memahami komunikasi sebagai arena kontestasi makna dan kekuasaan. Perang modern tidak lagi sekadar fisik, melainkan konstruksi realitas berbasis media, teknologi, dan algoritma, sehingga peran akademisi menjadi krusial dalam mengungkap relasi kuasa, membangun literasi media, serta mengembangkan kecerdasan komunikasi strategis sebagai fondasi menghadapi era perang multi-dimensi berbasis AI. (SCW)






