Merajut Asa Generasi Z Menuju Indonesia Emas

  • Whatsapp
Diskusi kepemudaan yang diinisiasi Komunitas Anak Muda NU di momentum Hari Pahlawan Nasional di Cafe Tanaris.(syahrul/mediasulawesi.id)

Suasana senja di Aula Tanaris Caffe, Jalan Juanda, Kota Palu, Selasa (14/11/2023) tampak berbeda. Sedikitnya puluhan kursi disusun berbentuk leter U menghadap ke satu arah yang sama. Berbeda dengan kegiatan-kegiatan besar yang lazimnya dilaksanakan di tempat itu. Suasana kala ini memang di desain untuk panggung diskusi. Kegiatan itu sengaja diinisiasi Komunitas Anak Muda NU di momentum Hari Pahlawan Nasional.

Pemilihan temanya pun tampak relevan dengan kondisi masa kini “Kepahlawanan Pemuda Menuju Indonesia Emas”. Diskusi itu berusaha mengupas peran dan tantangan kaum muda mempersiapkan diri menjemput Indonesia emas 2045 mendatang, dengan menilik tantangan dan peluang di era digital.

Tak kalah penting, meski kecil-kecilan diskusi itu menghadirkan tokoh-tokoh tersohor dari kalangan pemuda. Seperti Tokoh Muda Nasional, M. Thobahul Aftoni, Ketua PERGUNU Sulawesi Tengah, Nasaruddin Kadir, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Tengah, Rizki Lembah, serta Peneliti dan Tokoh Muda Sulawesi Tengah, M. Kaharu.

Peserta dari kegiatan tadi adalah tokoh-tokoh muda. Ada dari kalangan mahasiswa, jurnalis, dan beberapa organisasi kepemudaan seperti Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), IPNU-IPPNU, Gerakan Pemuda Ansor, dan peserta lainnya. Diskusi itu memang terbuka untuk umum.

Semilir angin yang bertiup ditambah sajian kopi bersama kudapan menambah gairah diskusi kala itu. Antusias para pencari ilmu jelas terlihat. Kesempatan itu juga menjadi penyambung tali silaturahmi antara kaum muda Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu dan sekitarnya.

Memantik Semangat Kepahlawanan Anak Muda

Bandul jam menunjuk  pukul 16.30 WITA, diskusi  mulai dibuka dengan dimoderatori oleh Koordinator Komunitas Anak Muda NU, Moh. Bagit Paggesa. Bagit memantik semangat anak muda untuk dapat mengambil peran menuju Indonesia emas. “Semangat kepahlawanan perlu kita buka, kita sebagai generasi muda harus betul-betul mengambil peran,” ujarnya membuka diskusi.

Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Tengah, Rizki Lembah, menggiring suasana diskusi dengan berkaca pada sejarah muasal lahirnya Hari Pahlawan. Peristiwa yang menyisakan sejarah mengentalnya semangat patriotisme rakyat Indonesia terhadap penjajahan Inggris di 10 November 1945 lalu menjadi catatan penting.

Tumbangnya Jenderal Mallaby, pimpinan tentara sekutu hingga invasi yang membumi hanguskan Surabaya memantik lahirnya ‘Resolusi Jihad’ oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari tokoh pahlawan nasional sekaligus pendiri organisasi  Nahdlatul Ulama. Kala itu pemuda memang menjadi garda terdepan perjuangan.

Kembali ke hari ini, Rizki menyebut tantangan perjuangan pemuda tak lagi laiknya peperangan tempo dulu. Menjaga nilai-nilai luhur dan spirit perjuangan nenek moyang harus selalu terpatri dalam setiap jiwa pemud. Ia menyebut tantangan perjuangan mempertahankan kemerdekaan hari ini adalah kemiskinan, kebodohan, narkoba, dan terorisme.”Itu yang harus kita jawab semua, bagaimana supaya tantangan itu menjadi kekuatan dan peluang agar supaya kita mendapatkan tahun emas kita,” jelasnya.

Menjaga Keseimbangan SDM di Era Gempuran Kemajuan Teknologi dan Digitalisasi

Atmosfer diskusi mulai dipertajam oleh paparan Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Sulawesi Tengah, Nasaruddin Kadir. Tokoh akademisi itu mencoba menyadarkan tantangan nyata yang berada di depan mata pemuda saat ini. Ya, Digitalisasi.”Tantangan terbesar adalah digital, anak-anak mesti kita kuatkan dengan literasi digital, kalau tidak anak-anak kita akan terjajah oleh digitalisasi yang sangat terbuka,” tegasnya.

Nasaruddin menuturkan bahwa kekuatan pemuda menjadi penentu perubahan di masa yang akan datang. Maka dari itu, penyeimbangan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi pemuda harus  intens dilakukan.

Sulawesi Tengah harus menyiapkan diri menyambut kehadiran Ibu Kota Nusantara sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Apalagi secara geografis lokasinya sangat strategis dengan wilayah Sulawesi Tengah. Peluang itu harus mampu ditangkap para pemuda hari ini, tentunya tak terlepas dari berbagai macam problematika.”Anak-anak muda kita siapkan dengan baik sehingga tidak tereliminasi dalam kompetisi global,” tandasnya.

Hal itu juga beririsan dengan pernyataan Fairus Husen Maskati, Anggota Komisi IV DPRD Sulteng yang sempat menjadi pembicara dadakan pada kesempatan itu. Vivi, sapaan akrabnya, menyebut pemuda adalah agent of change (agen perubahan, red). Sebagai pemuda, menurutnya, harus bisa mengambil peran di semua sektor dengan tetap mengutamakan persatuan antar pemuda.

Antara Potensi Wilayah dan Andil Pemuda Sulteng

Perkembangan teknologi di era digital saat ini memang merubah esensi perjuangan. Bukan lagi menggunakan senjata fisik, alat perjuangan yang harus dimiliki saat ini adalah teknologi dan ilmu pengetahuan.

Pada klimaks diskusi, Tokoh Muda Nasional, M. Thobahul Aftoni, memotivasi para pemuda agar dapat menangkap sinyal peluang-peluang yang ada, khususnya di wilayah Sulteng sendiri. Menurutnya, Sulteng kedepan akan dibanjiri ribuan peluang pekerjaan.

Saat ini saja, Sulteng sudah memiliki potensi-potensi unggul dalam hal kekayaan alam. Mulai dari sektor pertanian, perkebunan, kelautan, bahkan sektor industri pertambangan. Aftoni meyakinkan bahwa melalui itu tentunya dapat menjadi peluang mendongkrak kemajuan ekonomi masyarakat maupun daerah. Lagi dan lagi, semua itu hanya menjadi mimpi yang sulit terwujud tanpa dibarengi dengan kesiapan SDM yang mumpuni.”Intinya perang era saat ini adalah perang gagasan pengetahuan dan teknologi, siapa yang pandai memanfaatkan teknologi, dia lah yang menjadi pahlawan di era Indonesia emas 2045,” ucapnya.

Gema soal peran anak muda kembali dipertegas oleh narasumber terakhir,  M. Kaharu, selaku Peneliti dan Tokoh Muda Sulawesi Tengah. Ia menekankan kepada para pemuda untuk turut aktif mengambil peran dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. “Peran-peran ini yang harus diambil teman-teman pemuda, jangan diam!,” pungkasnya.

Diskusi yang berlangsung sekiranya tiga jam itu menyiratkan makna bahwa benar Indonesia saat ini memang telah merdeka. Penjajahan bukan lagi kita rasakan dampaknya secara fisik seperti yang terjadi di masa perjuangan para pahlawan. Namun bukan berarti membuat kita lengah, boleh jadi karena pesatnya globalisasi kita justru menjadi budak di tanah sendiri. Olehnya itu, sekarang giliran Gen Z mempersiapkan diri untuk melanjutkan estafet kepahlawanan itu dengan cara yang berbeda, yaitu ilmu pengetahuan.(Syahrul CW)

Pos terkait