TOLITOLI-Sejumlah peneliti yang tergabung dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, Sastra, dan Agama melakukan kegiatan penelitian kebahasaan di Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli. Penelitian ini difokuskan pada pengambilan data Vitailtas Bahasa Lauje di Kecamatan Dondo, Pemds setempat baik Camat Dondo maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Dondo sangat mendukung kegiatan tersebut. Kegiatan pengambilan data riset bahasa Lauje ini berlangsung selama dua minggu, yakni tanggal 24 Oktober hingga 6 November 2022 mendatang.
Sebelum turun lapangan, para peneliti ini melakukan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) atau Kelompok Diskusi Terpumpun di Kantor Kecamatan Dondo yang dihadiri para tokoh adat, kepala desa dan dusun suku Lauje yang tinggal di Kecamatan Dondo, para pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan FGD ini dilaksanakan Rabu (26/10/2022). Kegiatan FGD ini merupakan upaya untuk bertukar pikiran dan menyampaikan maksud dan tujuan tim peneliti kebahasaan.
Ketua tim peneliti, Deni Karsana kepada media ini mengatakan tujuan pengambilan data riset vitalitas bahasa Lauje yang merupakan pertama kali dilaksanakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional, adalah untuk penelitian. Kegiatan vitalitas bahasa Lauje merupakan upaya pertama untuk pelindungan terhadap bahasa dan sastra daerah agar tidak mengalami kepunahan. Upaya pelindungan bahasa dan sastra tertuang dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, yaitu pada pasal 45 dan peratruran Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, Pembinaan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia. Dalam Peraturan tersebut dijelaskan secara rinci bahwa pelindungan dapat dilakukan dengan cara pemetaan, kajian vitalitas, konservasi, revitalisasi, dan registrasi bahasa dan Satra,
Deni menjelaskan, upaya pelindungan bahasa dan sastra memiliki peran penting, yaitu (1) menjaga keaslian bahasa dan sastra daerah untuk tetap hidup; (2) mendapatkan kembali hubungan bahasa daerah dengan cara penutur memepertahankannya; (3) membangun kembali tradisi komunitas bahasa dan satra daerah, (4) menemukan fungsi baru dari sebuah bahasa dan sastra daerah, dan (5) menghadirkan generasi baru dari penutur bahasa dan sastra daerah.
Penelitian tersebut, sebutnya sudah mendapat restu dari Badan Riset Inovasi Nasional bernomor B-45838/II.8/KP/11.00/10/2022 yang ditantangani kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN bapak Dr. Herry Yogaswara, M.A. tertanggal 18 Oktober 2022, tentang Penetapan Pelaksanaan Kegiatan Riset Rumah Program OR Arbastra TA 2020 mengenai kegiatan Pengambilan Data Riset Vitalitas Baasa Lauje Malala di kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah dan Upaya Pelestarianya. Adapun tim kami berjumlah enam orang, empat orang dari BRIN dan dua orang dari Perguruan Tinggi. Saya, Deni Karsana, S.S.,M.A., kemudian M.Asri B, S.Pd, M.Pd, Tamrin, S.Pd, M.Pd., dan Nursyamsi, S.S., M.Pd, dari BRIN dan Bapak Prof. Dr. Lukman MS dari Unhas dan Dr. Abdul Gafur, S.Pd., M.Pd. dari UIN Dato Karama Palu.
Camat Dondo, Muhammad Yasin dalam sambutannya sangat menghargai dan mendukung kegiatan yang dilakukan oleh tim peneliti dari BRIN, yang bersedia melakukan kegiatan di wilayahnya, khususnya suku Lauje. Menurut Muhammad Yasin bahwa suku Lauje merupakan salah satu suku di Indonesia yanmg menetap di Kabupaten Tolitoli, khususnya di Kecamatan Dondo, Provinsi sulawesi Tengah yang dijkenal juga dengan nama suku Dayak. Suku Lauje yang menetap di Kabupaten Tolitoli terutama kecamatan Dondo, yaitu mulai dari Bambanong Desa Luok Manipi, Ogolais Desa Ogowele, Kinapasan Desa Ogewele Buga, Sinungku Desa Anggasan dan yang berada di Kilo Tujuh Desa Malala, dengan jumlah sekitar kurang lebih 1000 orang yang telah beradaptasi dan hidup berdampingan dengan penduduk setempat. Suku Lauje yang ada di Kecamatan Dondo ini berhubungan erat dengan suku Lauje yang ada di Palasa, Kabupaten Parigi Moutong. ‘’Mereka sangat dekat kekerabatannya. Mereka sering pulang pergi ke daerah Palasa, melakukan perjalanan menembus gunung dengan berjalan kaki selama beberapa hari,’’urainya.(sam)






