“TURBA” PAK WALI DAN MUSREMBANG

  • Whatsapp
Dr. H. Kasman Jaya Saad, M.Si (ist)

Tulisan ini mencoba memaknai gaya kepemimpinan Walikota Palu (H.Hadianto Rasyid) yang rajin turun kewarga kotanya. Tanpa menggunakan voorrijder (kendaraan yang nguing-nguing begitu), Walikota Palu banyak kali selama menjabat melakukan turun ke bawah (Turba), meninjau langsung ke lapangan. Lewat pemberitaan media saya ketahui, pak wali bahkan kerap menggunakan roda dua untuk Turba, menyusuri lorong dan jalan setapak di berbagai kelurahan yang ada di Kota Palu. Kegiatan Turba itu dilakukan pak wali setiap akhir pekan, guna menyaksikan langsung kondisi di lapangan dan “dimaksud” mendengar keluhan  warga kotanya. Kata Turba ini sengaja saya pilih untuk “sekedar” membedakan kata blusukan yang begitu “moncer” dipopulerkan Presiden Jokowi ketika menjabat Walikota dan Gubernur, meski sesungguhnya esensinya sama, karena menyebut gaya blusukan seakan itu menjadi gaya autentik Jokowi begitu.

Gaya manajemen kepemimpinan Turba, tentu tidak dimaksudkan sebagai antitesis dari perencanaan pembangunan sudah dilakukan secara Bottom up (dari bawah), dikenal dengan kegiatan Musrenbang yang merupakan demand driven process, artinya suatu kegiatan dilakukan dengan melibatkan aspirasi dan kebutuhan besar masyarakat di tingkat bawah secara inklusif. Bahwa kemudian musrenbang itu lebih terkesan “formal dan rutin”, ini yang perlu segera dievaluasi, karena tujuan musrenbang cukup baik dalam menempatan masyarakat sebagai subjek pembangunan, sehingga masyarakat dapat berperan serta secara aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi pembangunan. Terlebih apabila musrenbang itu dilakukan dengan semangat lokalitas artinya masyarakat lokal dengan pengetahuan serta pengalamannya menjadi modal yang sangat besar dalam melaksanakan pembangunan, karena masyarakat lokal atau setempatlah yang mengetahui apa permasalahan yang dihadapi mereka, juga potensi yang dimiliki oleh daerahnya. Tanpa melibatkan masyarakat, pemerintah tidak akan dapat mencapai hasil pembangunan secara optimal. Pembangunan hanya akan melahirkan produk produk yang kurang berarti bagi masyarakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Jadi Musrenbang sesungguhnya diharapkan menjadi media utama konsultasi publik yang digunakan pemerintah dalam penyusunan rencana pembangunan di daerahnya. Kalau musrebang itu berjalan dengan baik sesuai dengan tujuannya, tentu sangat baik untuk mewujudkan pembangunan inklusif, pembangunan yang menyejahterakan. Namun faktanya, belum demikian. Masih ada jarak antara harapan dengan kenyataan, antara Das sollen atau kebutuhan masyarakat yang seharusnya dilakukan dan Das sein atau kenyataan yang dalam tindakan.

Pilihan Redaksi :  Fakultas Sastra Unisa Gelar Bimtek Proposal Hibah Penelitian Abdimas

Menyadari belum optimalnya hasil Musrebang itu, maka gaya kepemimpinan Turba pak Wali itu patut diapresiasi. Sebagai seorang pemimpin, maka cara yang baik untuk merasakan denyut nadi masyarakat adalah turun langsung kemasyarakat, menjadi bagian inheren dari hidup masyarakat. Fakta dan keluhan masyarakat adalah dua hal yang perlu disaksikan dan didengar langsung, agar tak bisa lapor. Sebagai pemimpin tidak cukup hanya menunggu laporan bawahannya. Ia harus turun ke lapangan untuk memastikan laporan itu sesuai dengan realitas atau fakta yang sesungguhnya. Dengan Turba, seorang pemimpin bisa mendengar langsung keluhan masyarakat. Mendengarkan keluh kesah masyarakat secara langsung akan mudah bagi seorang pemimpin untuk menentukan langkah yang tepat untuk memberikan solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Sehingga, mudah merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menaikkan taraf hidup masyarakat yang dipimpinnya. Karena sajian informasi yang  akurat dan tepat akan relevan dengan keputusan yang akan diambil. Jim Collins, penulis buku best seller Good to Great pernah menyebut “ Tanggung jawab utama dan pertama seorang pemimpin adalah menemukan dan mengemukakan “The brutal facts”, fakta yang kadang brutal dan menyakitkan”. Tanpa Turba seorang pemimpin tak akan menemukan fakta yang brutal. Ia hanya akan menemukan laporan “sering kali” bukan realitas atau fakta yang sebenarnya, yang hadir laporan yang penuh sensasi, penuh tabel dan angka-angka serta analisis yang menarik, yang di dalamnya tak ada keluh kesah, tak ada realitas yang menyakitkan. Laporan yang disajikan seperti yang ditawarkan perusahaan fotografi ketika mengiklankan produknya “Lebih indah dari aslinya.” Hasil potret tentang kehidupan masyarakat dinilai tidak sesuai dengan realitas karena lebih bagus dari kenyataan yang dirasakan masyarakat.

Pilihan Redaksi :  Fakultas Sastra Unisa Resmi Kerjasama Dengan Undhira Bali

Akhirul kalam, kepemimpinan bukan hanya sekedar keterpilihan, namun ada tanggung jawab untuk melayani dan menyejahterahkan. Turba adalah bagian dari upaya memenuhi tanggung jawab itu. Memenuhi janji-janji yang teucap dalam masa kampanye adalah hal mutlak untuk ditunaikan. “Menyakini sesuatu, namun tidak mengamalkannya adalah tindakan tidak jujur”begitu pesan Mahatma Gandhi. Dan Rasulullah Muhammad Saw. juga mengingatkan ”Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” Seorang Walikota adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Tabe, Pak Wali. (Dr.H. Kasman Jaya Saad, M.Si, Dosen Universitas Alkhairaat Palu)

Pos terkait