Ember di Tangan, Api Menggila Potret Perjuangan Melawan Kebakaran Hutan di Teluk Wondama

  • Whatsapp
Tim Ekspedisi Patriot Ul (TEP Ul) membantu penanganan kebakaran hutan di wilayah Teluk Wondama, Papua Barat dan lahan di SP 2 Transmigrasi Werianggi Werabur.(ist)

PAPUA-Tak ada rotan, tim ekspedisi patriot pun jadi. Benar iuga pepatah ini, bila dikaitkan dalam penanganan kebakaran hutan di wilayah Teluk Wondama, Papua Barat dan lahan di SP 2 Transmigrasi Werianggi Werabur.

Bayangkan, asap mulai menebal. Api menjalar dari satu titik ke titik lain, merambat melalui semak-semak kering dan pepohonan yang kehilangan kelembapan. Angin membuat kobaran semakin sulit dikendalikan. Dalam hitungan jam, kawasan yang sebelumnya hijau berubah menjadi hamparan bara.

Dalam kondisi seperti itu tim  Ekspedisi Patriot Ul (TEP Ul) melakukan gerak cepat membantu masyarakat melakukan pemadaman api. Dengan peralatan yang terbatas, air dari sungai terdekat dibawa dan disalurkan secara bergantian untuk memadamkan titik kebakaran. Tak sekadar memadamkan api, tim dan warga juga membasahi area yang terbakar secara menyeluruh agar bara tidak kembali menyala dan api tidak menjalar ke area lainnya.

Pilihan Redaksi :  Atasi Karhutla, Tim KKL Seskoad Gelar Dialog Dengan Warga Lampung Timur

Kebakaran ini turut merusak bagian pipa air bersih yang sudah terpasang dalam jalur yang sedang dibangun TEP Ul bersama masyarakat dan pemerintah setempat. Pemasangan jalur pipa dari Tamoge menuju kawasan SP 2 Werianggi ini menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan air bersih bagi warga setempat.

Persoalan akses air bersih memang menjadi salah satu fokus utama TEP Ul selama mengabdi di wilayah Transmigrasi Werianggi-Werabur. Sebelumnya, pengerjaan fisik jalur pipa, sudah menghubungkan beberapa titik strategis menuju permukiman warga dan memasuki tahap instalasi akhir ke rumah rumah.

Sampai disini muncul masalah akut, tak ada peralatan moderen dalam memadamkan kobaran api yang makin mengganas itu. Tak ada Selang, tangki air atau kendaraan pemadam kebakaran.  Dalam keterbatasan alat pemadam kebakaran itu  tim ekspedisi patriot dan masyarakat tidak memiliki banyak pilihan. Mereka tidak bisa hanya berdiri melihat hutan terbakar. Mereka harus bergerak dengan apa yang ada. Maka ember menjadi alat pertama yang digenggam.

Pilihan Redaksi :  Atasi Karhutla, Tim KKL Seskoad Gelar Dialog Dengan Warga Lampung Timur

Ya, ember menjadi senjata awal dari perang melawan ganasnya kobaran api. Sebuah ember kecil diangkat, diisi air, kemudian dibawa berlari menuju titik api. Air disiramkan. Ember kembali kosong. Ia dibawa lagi menuju sumber air, diisi kembali, lalu kembali menghadapi api.

Begitu seterusnya.Di tengah kebakaran yang semakin membesar, ember tampak begitu kecil. Tetapi bagi mereka yang berada di garis depan, ember bukan sekadar wadah air. Ia adalah simbol perjuangan, keterbatasan, dan kegigihan manusia menghadapi bencana.

 Tapi ini perjuangan luar biasa, ketika api makin cepat merambah dibanding langkah kaki kaki para tim ekspedsi patriot pemilik masa depan  bangsa ini berjibaku membawa beberapa liter air dalam sekali perjalanan. Memang tenaga sedikit terkuras tapi kegigihan dan pantang menyerah membuat pelan tapi pasti api bisa dijinakkan hingga sekarang.

Pilihan Redaksi :  Atasi Karhutla, Tim KKL Seskoad Gelar Dialog Dengan Warga Lampung Timur

Sedikit memprihatinkan karena terbakarnya sebagian pipa yang sudah terpasang. Tapi ini menjadi tantangan baru di tengah upaya TEP Ul menyediakan akses air bersih bagi masyarakat. Meski menjadi kendala, TEP Ul tetap berupaya memperbaiki bagian yang terdampak dan melanjutkan pengerjaan di lapangan.

Kondisi ini menjadi bagian dari proses TEP Ul dalam menyesuaikan langkah dengan dinamika lingkungan, sekaligus mempertimbangkan berbagai risiko yang dapat muncul. Kepekaan sosial dan ekologis menjadi landasan untuk menghadirkan solusi yang selaras dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat. Mudah mudahan.( Yusril)

Pos terkait