Di tengah dunia yang kian terhubung oleh teknologi dan globalisasi, kita dihadapkan pada tantangan besar, bagaimana mempertahankan dan menguatkan literasi bahasa Indonesia di tengah arus dominasi bahasa asing dan budaya digital. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan jati diri bangsa (Chaer 2007). Saat ini, Bahasa Indonesia sering kali terabaikan, khususnya di kalangan anak muda yang lebih akrab dengan bahasa-bahasa global seperti Inggris, Korea, Jepang maupun berbagai bentuk bahasa gaul di media sosial.
Fenomena ini tidak bisa dipandang remeh ketika generasi muda lebih nyaman mengekspresikan diri dalam bahasa asing atau bahasa prokem digital, kita menghadapi risiko melemahnya rasa memiliki terhadap bahasa nasional. Literasi bahasa Indonesia bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman makna, kepekaan terhadap konteks budaya, dan keterampilan berpikir kritis. Oleh karena itu, penguatan literasi tidak cukup dilakukan hanya di ruang kelas, melainkan harus menjadi gerakan kolektif di berbagai dunia pendidikan, media, keluarga, dan komunitas.
Dalam era global saat ini, penguasaan bahasa asing tentu sangat penting Namun, hal tersebut tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan eksistensi bahasa sendiri, justru kemampuan berbahasa Indonesia yang baik akan menjadi fondasi kuat untuk menguasai bahasa lain dan memperkuat identitas kebangsaan di tengah dinamika global. Dunia digital saat ini, tantangan itu menjadi berlipat ganda di satu sisi, teknologi menawarkan berbagai platform digital yang bisa memperluas akses terhadap informasi dan bacaan seperti pembelajaran daring, aplikasi baca digital, artikel daring, layanan video edukatif, aplikasi penerjemah, kamus digital, podcast dan audiobook hingga media sosial yang bisa menjadi sarana pengembangan literasi akan tetapi, di balik kemudahan itu, sering muncul kebiasaan mengakses konten secara instan yang cenderung dangkal dan kurang bermanfaat.
Bahasa sering disingkat sembarangan, kaidahnya diabaikan, dan konten lebih menonjolkan sensasi ketimbang makna. Meski begitu, kita tidak bisa sekadar menyalahkan teknologi atau globalisasi justru inilah kesempatan untuk memanfaatkan dunia digital sebagai medium strategis dalam menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan teknologi. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan terjemahan otomatis pun dapat diarahkan untuk mendukung pemahaman lintas bahasa dengan tetap menempatkan bahasa Indonesia sebagai pusat interaksi. Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya memperkuat kemampuan berbahasa, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap jati diri bangsa melalui wajah digital yang inklusif dan maju sehinga bahasa Indonesia tidak hanya menjadi lambang resmi dalam dokumen pemerintahan, melainkan turut hadir secara aktif di dunia digital sebagai bahasa yang berkembang, fleksibel, dan responsif terhadap perubahan zaman. Keberlanjutan bahasa Indonesia sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu memadukannya ke dalam lanskap digital yang terus mengalami perkembangan. Saat inilah momen yang tepat bagi kita untuk bersama-sama membangun ruang digital yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi kaya akan nilai budaya dan menjunjung tinggi etika berbahasa.(Suparni, S.Pd, M.Pd, Dosen Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu)






