DALAM era digital saat ini, media sosial telah menjadi ruang publik baru yang membentuk pola komunikasi, cara belajar, hingga cara manusia berinteraksi dengan kebudayaan, termasuk sastra. Tulisan ini berangkat dari pertanyaan mendasar: Masih relevankah sastra diajarkan dengan pendekatan konvensional di tengah dominasi media sosial? Dengan mengambil pendekatan multidisipliner, tulisan ini menjelaskan bagaimana media sosial dapat berperan sebagai jembatan untuk mendekatkan karya sastra kepada generasi muda yang hidup dalam ekosistem digital.
Generasi muda saat ini lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial daripada media cetak. Sastra, yang selama ini identik dengan teks panjang dan bahasa yang dianggap “berat”, kerap terpinggirkan dalam kurikulum formal maupun ruang publik digital. Namun, kehadiran berbagai akun sastra di platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter mulai menunjukkan gejala perubahan. Platform ini mengubah cara sastra dikonsumsi dari pembacaan individual menjadi pengalaman kolektif dan visual.
Mengacu pada teori literasi media dari Henry Jenkins dalam konsep participatory culture, media sosial membuka peluang partisipasi aktif masyarakat dalam produksi dan distribusi konten, termasuk sastra. Anak muda tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga kreator menulis puisi di Instagram, membacakan cerpen via YouTube Shorts, hingga membuat ulasan puisi Chairil Anwar, WS. Rendra, Sapardi Djoko Damono, hingga sastrawan-sastrawan lain, bahkan karya mereka sendiri lewat TikTok. Ini membuktikan bahwa media sosial dapat menjadi alat pedagogi alternatif yang inklusif dan interaktif.
Konsep transmedia storytelling dari Jenkins juga relevan di sini. sastra kini tidak hanya hidup di dalam buku, tetapi menjelma dalam berbagai bentuk naratif digital video pendek, podcast, infografik, dan meme. Adaptasi ini menjadikan sastra lebih mudah diakses, dipahami, dan dirasakan secara emosional oleh generasi digital native.
Dalam konteks media sosial, sastra begitu banyak menguasai media sosial dan sangat diminati oleh pembaca, tidak sedikit pengguna media sosial hingga mendownload diksi yang memiliki kajian sastra yang penuh dengan estetika, seperti: narasi puisi di Instagram, facebook yang menyajikan puisi dengan ilustrasi visual yang didukung dengan instrument dan narasi suara yang membawa pembaca pada rasa nilai estetika, TikTok, yang menjadi media utama bagi generasi Gen-Z dalam mengapload konten yang memiliki kajian-kajian sastra di dalamnya.
Meski menjanjikan, penggunaan media sosial untuk belajar sastra tidak lepas dari tantangan. Fragmentasi makna adalah salah satunya: puisi atau cerpen yang dipotong menjadi kutipan bisa menghilangkan konteks utuhnya. Juga, bahaya menginterpretasikan atau penyebaran informasi yang tidak akurat perlu menjadi perhatian pendidik dan kreator konten.
Media sosial dapat menjadi jembatan antargenerasi. Orang tua yang akrab dengan sastra cetak dan remaja digital dapat bertemu di titik tengah membicarakan makna puisi W.S. Rendra dalam format video reels, atau menganalisis novel Pramoedya Ananta Toer melalui diskusi daring. Dengan ini, sastra tidak hanya menjadi objek pelajaran, tetapi ruang dialog lintas zaman.
Tulisan ini mengajak pembaca baik guru, pegiat literasi, maupun orang tua untuk membuka diri terhadap pendekatan baru dalam pengajaran sastra. Dengan memanfaatkan kekuatan visual, audio, dan interaktivitas media sosial, sastra tidak kehilangan maknanya, tetapi justru menemukan bentuk hidup baru yang relevan dan inspiratif. Dengan demikian pembelajaran sastra dapat trus terupdete dan kekinian mengikuti perkembangan teknologi. (Nasim Taha, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Alkhairaat)






