Dinamika Multilingualisme dan Hibriditas Linguistik di Lingkungan Alkhairaat Palu

  • Whatsapp
Suparni, S.Pd, M.Pd (ist)

Multilingualisme dalam konteks ini bukan sekadar penguasaan beberapa bahasa, melainkan mencerminkan dinamika identitas, fungsi sosial bahasa, serta ideologi kebahasaan yang terbentuk melalui sistem pendidikan formal. Dalam konteks masyarakat multikultural, fenomena multilingualisme dan kontak bahasa menjadi hal yang tidak terelakkan. Fenomena ini sering kali muncul dalam situasi kontak bahasa, yakni ketika dua atau lebih bahasa digunakan secara bersamaan dalam satu wilayah atau komunitas. Dalam kondisi semacam ini, bahasa yang lebih dominan, baik karena jumlah penuturnya, status sosialnya, atau fungsinya dalam ranah formal seperti pendidikan dan pemerintahan, cenderung menggantikan bahasa yang lebih lemah. Lama-kelamaan, penggunaan bahasa minoritas pun semakin menyusut, terutama jika tidak ada tindakan konkret untuk menjaga kelestariannya. Crystal (2000) memandang multilingualisme sebagai tahap krusial di mana bahasa lokal bertahan hidup atau justru perlahan punah tertelan bahasa dominan.

Multilingulisme di lingkungan Alkhairaat Palu menjadi arena di mana bahasa-bahasa digunakan seperti bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan Kaili digunakan dalam interaksi sehari-hari, Kehadiran berbagai bahasa ini menghasilkan hibriditas linguistik yang kompleks. Dinamika multilingualisme di lingkungan Alkhairaat Palu seperti bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Inggris sebagai bahasa global, bahasa kaili sebagai bahasa lokal, dan bahasa Arab dapat diposisikan sebagai bahasa dengan fungsi sebagai simbolik Alkhairaat dan mencerminkan interaksi kompleks antara agama, budaya, pendidikan, dan kebahasaan saling melengkapi dalam membentuk ekosistem linguistik yang dinamis.  Keempat bahasa ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga membentuk identitas dan memperkuat ikatan sosial di lingkungan Alkhairaat dan bukan sekedar persoalan kebahasaan, melainkan juga sebagai simbol keyakinan kealkhairaatan yang menciptakan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang bagaimana bahasa berfungsi sebagai media integrasi antara identitas lokal. Salah satu ciri khas yang menonjol di lingkungan Alkhairaat adalah terdapat integrasi antara pendidikan Islam dan identitas lokal yang secara halus atau tidak terlihat pada pilihan dan penggunaan bahasa para penuturnya.​ Bahasa Arab tidak hanya diajarkan secara formal di Universitas Alkhairaat, tetapi juga menjadi simbol otoritas spiritual dan identitas religius. Bahasa Arab dipandang sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada sumber-sumber ajaran Islam, serta sebagai representasi dari kedalaman ilmu dan komitmen terhadap nilai-nilai agama. Bahasa Arab sering digunakan dalam ritual keagamaan, pengajian, atau percakapan sehari-hari yang dilandasi oleh kaidah-kaidah keagamaan. Selain itu, beberapa faktor utama yang mendorong pergeseran bahasa di Universitas Alkhairaat palu, di antaranya karena faktor globalisasi, urbanisasi, dan kekuatan ekonomi. Globalisasi menciptakan tekanan homogenisasi bahasa, di mana penggunaan bahasa internasional dianggap lebih praktis dan menguntungkan secara ekonomi. Urbanisasi mempercepat proses ini karena individu-individu dari komunitas bahasa minoritas pindah ke kota-kota besar dan terdorong untuk menyesuaikan diri dengan bahasa mayoritas demi bertahan hidup atau mendapatkan pekerjaan, dan kekuatan ekonomi juga berperan besar, karena bahasa dominan sering kali dikaitkan dengan kemajuan, pendidikan, dan mobilitas sosial.

Dengan demikian dapat disimpulkan secara historis, bahasa Arab di lingkungan Alkhairaat Palu telah mengakar bukan sekadar sebagai instrumen komunikasi asing, melainkan sebagai ruh spiritualitas dan pilar identitas institusional yang tak terpisahkan. Keberadaannya merepresentasikan kesinambungan intelektual dan otoritas keagamaan yang menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan realitas lokal. Hingga saat ini, bahasa Arab mempertahankan status istimewa di berbagai unit pendidikan Alkhairaat, berfungsi sebagai simbol prestise akademik sekaligus jangkar identitas religius para penuturnya. Dalam ruang sosial yang multikultural, bahasa ini berdiri kokoh sebagai identitas pembeda yang memberikan kedalaman makna pada interaksi sehari-hari, memastikan bahwa setiap percakapan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendiri Alkhairaat.(Suparni, S.Pd, M.Pd, Dosen Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat Palu)

Pos terkait